Showing posts with label bandung. Show all posts
Showing posts with label bandung. Show all posts

Tuesday, August 8, 2017

Sejarah Saritem


Konon pada jaman penjajahan dikisahkan;
Lokalisasi yang bernama Saritem ini terletak di suatu stasiun kereta di Bandung. Tepatnya berada di antara Jalan Astana Anyar dan Gardu Jati. Lokasi ini sudah dijadikan sebagai tempat lokalisasi sejak zaman kolonialisme Belanda. Para Pekerja Seks Komersial (PSK) dipajang di setiap rumah dengan menggunakan kebaya khas pribumi. Tempat lokalisasi ini sudah berdiri sejak tahun 1838, kurang lebih tempat ini kini sudah berusia 233 tahun. 


Nyai Saritem dan Sejarahnya Hingga Menjadi Dalang Prostitusi Sejak Zaman Belanda
Nama Saritem diambil dari sebuah nama gadis desa khas Kota Kembang. Saritem memang berparas cantik dan berkulit putih. Pesona kecantikan Saritem seringkali memikat petinggi Belanda di masa itu. Saking tergila-gilanya, Saritem kemudian dijadikannya gundik. Semenjak saat itu, Saritem yang awalnya hanya gadis kampung kemudian menjadi ‘Nyonya Belanda’. Namanya pun berubah menjadi Nyai Saritem.

Nyai Saritem dan Sejarahnya Hingga Menjadi Dalang Prostitusi Sejak Zaman Belanda
Selang beberapa tahun, Nyai Saritem diminta oleh pembesar Belanda tersebut untuk mencari wanita yang bisa diajak kencan oleh para serdadu Belanda yang masih melajang. Kebetulan, pada saat itu daerah Gardu Jati memang dijadikan sebagai markas militer Belanda. Dalam misinya tersebut, Nyai Saritem difasilitasi sebuah rumah yang cukup besar. Semakin hari perempuan-perempuan yang dikumpulkannya semakin banyak. Perempuan-perempuan tersebut berasal dari sekitaran Bandung, seperti Sumedang, Cianjur, Garut, serta Indramayu. Bisnisnya semakin besar, Nyai Saritem semakin terkenal.

Bisnis birahi milik Nyai Saritem ini kemudian semakin berkembang pesat. Pengunjung yang datang tak hanya berasal dari kalangan serdadu lajang. Para prajurit yang sudah lanjut usia juga kerap berkunjung ke tempat ini. Bukan hanya warga Belanda, kalangan pribumi juga tak sedikit yang berkunjung dan mencicipi bisnis Nyai Saritem ini.

Bilih psnasaran, siga naon sih Saritem teh..?!
Tah ieu foto Saritem waktos jamanna..!!

Monday, August 23, 2010

ASUS Campus Elite Organization

ASUS CEO atau Campus Elite Organization merupakan wadah yang menyediakan jalur pemantapan karir di dunia industri Teknologi Informasi melalui berbagai macam proses, kegiatan, dan training bagi mahasiswa. Mahasiswa dari berbagai jurusan dan fakultas dapat berpartisipasi menjadi bagian dari program ini. Program ini menyediakan platform bagi mereka untuk belajar seiring dengan pembelajarannya tentang trend market yang sedang berkembang dan mengenal budaya kerja dalam lingkungan perusahaan.

Tujuan CEO Program :
  • Menjalin hubungan yang baik antara ASUS dengan institusi pendidikan
  • Mengembangkan potensi dan kualitas manajemen dalam diri mahasiswa.
  • Menyediakan pengalaman bekerja bagi anggota CEO.
  • Meningkatkan kemampuan organisasi anggota CEO.
  • Membantu mahasiswa anggota CEO untuk menemukan bakat dan minat serta talenta mereka.
  • Mengajak mahasiswa untuk dapat belajar dan mengikuti perkembangan teknologi informasi yang terbaru.
  • Memberikan kesempatan untuk meniti karir di perusahaan ASUS, terutama bagi anggota CEO yang berkinerja baik melalui penilaian performa.

Berbagai kegiatan yang dapat dilakukan oleh anggota CEO Program :
  • Recommendation Rate at dealers shop, melakukan survei pasar di berbagai pusat bisnis IT. Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa dapat belajar bagaimana menganalisa pasar.
  • Competitor Analysis, melakukan analisa SWOT maupun 4P produk pesaing.
  • Shop Merchandising, menerapkan sistem P-D-C-A (Plan Do Check Act) untuk meningkatkan exposure rate di pertokoan (push marketing).
  • Market Survey on Brand Image with End-user, melakukan survei dan analisa trend dan brand image terhadap end user.
  • ASUS Website & Graphic, mengembangkan website dan melakukan design sesuai dengan corporate identity perusahaan.
  • Translator, merupakan sebuah job yang melatih anggota CEO dalam berbahasa inggris.
  • Event Management, sebagai salah satu tim untuk menangani berbagai acara baik berskala kecil seperti seminar, workshop, launching, gathering maupun skala besar seperti pameran dan roadshow.
  • Sales promotor, memanfaatkan pengetahuan produk yang telah dimiliki dan mengasah kemampuan berbicara sebagai sales promotor di pameran.
  • Monthly Meeting, yaitu meeting yang diadakan setiap bulannya untuk mengetahui info terupdate dari ASUS, review job, pembagian fee (gaji), dan membicarakan hal-hal yang ada dibulan itu.
  • Summer Camp, yaitu acara berkumpulnya seluruh anggota ASUS CEO dari seluruh Indonesia, merupakan acara upgrading besar-besaran yang sangat menyenangkan.

Keuntungan yang didapatkan dengan menjadi anggota CEO Program:
  • Bonus berdasarkan hasil penilaian kinerja.
  • Pengumpulan poin berdasarkan kinerja untuk mendapatkan benefit dari ASUS.
  • Kesempatan untuk mendapatkan pelatihan mengenai berbagai macam produk ASUS dan keahlian managerial maupun marketing.
  • Kesempatan untuk ikut-serta dalam acara Summer camp.
  • Sertifikat dari ASUS.
  • Kesempatan untuk bergabung sebagai karyawan ASUS.

Pelatihan yang diberikan berupa:

  • Profil perusahaan ASUS, berupa budaya kerja, filosofi manajemen dan brand image.
  • Kode Ethic perusahaan dan bisnis.
  • Informasi mengenai perkembangan teknologi dan produk-produk ASUS.
  • Keahlian berbicara, presentasi, negosiasi, dan juga kemampuan dalam mengorganisasi kegiatan, melakukan analisa dan menerapkan strategi kegiatan.

Untuk Menjadi Anggota ASUS CEO, kalian dapat mengikuti acara Campus Speech dan mengikuti test yang ada pada Campus Speech tersebut. Test untuk menjadi anggota ASUS CEO ada 3 yaitu IT Test, IQ Test & Psychotest. Lalu yang lulus test akan diwawancara dan kemudian menjalani field test dengan menjalani salah satu job bulanan ASUS CEO.

Tunggu kehadiran Campus Speech di Kampus Anda, ikuti dan jadilah anggota ASUS CEO Indonesia!


"ASUS No. 1 Motherboard Maker
ASUS Won 3268 Awards in 2009"

Saturday, February 6, 2010

Perjalanan Bandung Bali dengan ongkos dibawah seratus ribu

datang geladi ke bali SENDIRIAN dengan menaiki kereta ekonomi kahuripan (38.000) dan sritanjung (26.000) ditambah ferry ketapang gilimanuk (6.000) dan bis ke ubung (25.000). Berangkat tanggal 4 juli pukul 20.00 dan sampai tanggal 6juli pukul 06.00.

kereta ekonomi adalah kereta yang tidak jauh berbeda dengan kereta bisnis dan eksekutip. bedanya hanya masalah harga dan jadwal saja. di kereta ekonomi dapat ditemukan hal2 yang menakjubkan, keramahtamahan bangsa indonesia (cie.cie..). sebenarnya tidak ada yang namanya kejahatan yang menjadi isu di kereta ekonomi. asal kita bisa membawa diri dilingkungan itu. seperti tidak menunjukan kekayaan dengan berlebihan. hape ga termasuk koq. maksudnya seperti perhiasan. bling2. notebook (bawa aja ga usah dikeluarin. lagian ga ada hotspot disana), dkk..

pagi tanggal 4 juli gw survey ke stasiun kircon karena sebelumnya dah survey ke st. hall dan keabisan tiket. ternyata gw punya ide buat backpacker malem. biar sampe surabaya siang. kan masih bisa ada pilihan bis kalo siang. karena gw lom merencanakan detail untuk di surabaya saat itu. malemnya tanggal 4 juli gw sung ke kircon station yang keren banget malem hari. kaya suasana stasion jakarta kota yang deket glodok, tempat biasa gw beli alat2 komputer dan lain2 seperti cd (wah cd apa tuh????). kereta berangkat gw duduk di carrier 80literku di gerbong kantin kereta yang masih cukup luas untuk kutiduran.

tidak terasa sambil mengobrol dengan bapa2 yang turun di malang, wartawan sindo berumur 23taun, dan deberapa bapa2 dan ibu2 sok kenal. jangan kawatir, aku duduk di carrier cuma sampe jam stengah 3 pagi. selanjutnya santai di bangku seperti bangku eksekutip. sampailah gw di stasiun kertosono (cari di mbah google kalo ga tau...) sampe di kertosono langsung kutanyakan "kalo mo ke banyuwangi naek apa?" soalnya di banyuwangi kan ada ketapang buat nyebrang ke bali. jawabannya lugas dan terpercaya. kereta sritanjung. pukul 11.00 di kertosono dan berangkat lagi pukul 13.00 nasib gw ga terlalu beruntung di kereta ini. karena kertosono bukan stasiun besar. maka dari itu aku tidak dapat tempat duduk yang layak. di pinggir bangku. tapi jangan kawatir juga. cuma 3 stasiun gw menunggu. langsung dapat tempat duduk.

banyak kejadian yang terjadi di kereta. sampai2 kereta yang gw naekin tu nabrak motor yang sedikit bandel di lampu merah (sedikit bandel bisa menyebabkan kematian). sampai se pengendara motor meregang nyawa dan mayatnya dibawa ke stasiun porong (stasiun terdekat). jam 12 malam gw dah nyampe di banyuwanyi. trus gw langsung ke ketapang.... karena gw ga tau ternyata deket. jadi naek ojek. bayar goceng. tapi kalo jalan kaki juga deket koq. sampe di ketapang ketemu bapa2 yang sering bulak balik ke bali. dan sekeluarga yang ingin liburan ke bali. bayar 6000 doang naek ferry ke gilimanuk. trus dari gilimanuk di cek2 ktp. trus naek bis deh ke ubung dengan bayar 25000. sebenernya harganya 15000an doank. tapi karena udah malem (03.00 WITA) jadi harganya segitu kayanya. jago2 aja nawar.

semua yang keluar dari kantong ga nyampe seratus rebu. kecuali ditambah2 makan. ya emang mo naek apa pun pasti pada makan kan. sekedar info. makanan di kereta ekonomi pun beragam. dari mulai kantinnya yang jual nasi goreng, kopi, susu, indomie rebus, dkk. ada tukang asongan yang jual aneka ragam makanan dari mulai nasi rawon mpe nasi campur. pokoknya seru deh. jangan terpengaruh dengan perkataan orang yang menakutkan tentang kereta ekonomi. tapi ini option doank. ga maksa. makasi dah mo dengerin. semoga bermanfaat.

Sunday, January 17, 2010

Perfect Places for Your Food’s Trip in Bandung (Part VI)

Thus, the last meal for this trip to complete the taste of Bandung is in Batagor Riri. Batagor is a contraction of bakso tahu goreng, fried meatballs and tofu, only the meatballs are made of fish and both are dipped in batter before fried. No trip to Bandung is complete without a taste of the famous Batagor, and the ones at Riri’s is thought to be one of if not the best. The secret of Riri’s Batagor is its spicy peanut sauce, it’s very pungent and serves as an excellent base for sate dishes. Add a few ounces of lime juice, and kecap manis to your liking, slice your Batagor, slather it with sauce and you’re all set. People seem to eat more sauce than they do the Batagor itself.

It’s nice to end a Bandung trip with Batagor. The flavors of the Batagor pretty much sums up what Indonesian food is all about: very textured, pungent and fiery. You can dip pretty much anything into it—whether its potatos or pasta—and you’re sure to come up with a marvelous interpretation of food. So, get ready to join this trip as we suggest??hmm…, maybe the right moment will come after you to try our whole optional above… Ok.., have nice food’s trip for you… ^_^ (kem)

Perfect Places for Your Food’s Trip in Bandung (Part V)

Spending a day in Bandung is too frentic for any decent meal as we picked up a lot of packed food to go. First was the Risol or risoles from De’Risol, a small croquette-like pastry rolled in breadcrumbs and deep fried. It is filled with sweet or savoury ingredients, vegan and two servings of it proved to be quite filling. One bite and you could be an instant fan convert to the church of risoles. It is creamy inside, and all that fat is just sinfully heavenly. Another indulgence is Lily’s Patisserie, which according to local friend Bal, serves the best tiramisu in Indonesia. It’s a quaint and homey cakeshop nestled in a residential area in Bandung that serves both western and local desserts. Hopefully you don’t need any convincing. So just grabs a blueberry cheesecake inside the refrigerator and perhaps you will extremely satisfied with it

Perfect Places for Your Food’s Trip in Bandung (Part IV)

About having a perfect dinner you could spent the night at The Cellar, a restaurant with a really schizophrenic atmosphere. It is a high-end restaurant struggling to find its niche and market. The ground floor is well-stocked with wine, and the upper floor is a spacious collection of seating areas lined with sofas and coffee tables perfect for drinking and sharing conversation with friends. However, the joint clearly wasn’t making enough money just selling wine, so they serve the food as well only it was difficult to eat in those low sofas and tables. The food is just ok. You should try order some salad and their Black Pepper Snapper, and doesn’t really get much out of it except for a safe rendition of fish. Even more bothersome is the fact that the place does not have a wine list, there was loud live music in the middle of the restaurant, and the seating arrangements does not exactly make it easy to watch the show downstairs. The lay-out means for intimate conversations over wine and soft music, however it is difficult to talk as the fiasco on stage proved too obtrusive for any conversation to take place

Perfect Places for Your Food’s Trip in Bandung (Part III)

The next place that you could visit is the in-house restaurant in Rumah Mode, one of Bandung’s more popular factory outlets where people get to shop for export overruns of branded Western clothes at cheap prices. This is the story of Bandung, an economy revitalized by Western rejects as factory outlets have attracted a swarm of local and foreign tourists. You could so order ayam bakar in Rumah Mode. It definitely wasn’t comparable to Sariwangi’s but it was hearty and tasteful just the same. Maybe after hours of shopping, you should have a lunch on the veranda of the Cascade Factory Outlet which housed Dego Ramen. At there you could order Chicken Katsudon Noodle. It perhaps taste strange at first as the broth of the soup was altered by the addition of a kind of mushroom you have not seen before. But after a little getting used to, the soup did leave a pleasantly light aftertaste.

Website counter [Close]