Showing posts with label buddha. Show all posts
Showing posts with label buddha. Show all posts

Thursday, January 14, 2016

Kālāma Sūtra

Rely not on the teacher, but on the teaching.
Rely not on the words of the teaching, but on the spirit of the words.
Rely not on theory, but on experience.

Do not believe in anything simply because you have heard it.
Do not believe in traditions because they have been handed down for many generations.
Do not believe anything because it is spoken and rumored by many.
Do not believe in anything because it is written in your religious books.
Do not believe in anything merely on the authority of your teachers and elders.

But after observation and analysis, when you find that anything agrees with reason and is conducive to the good and the benefit of one and all, then accept it and live up to it ~

Sunday, July 21, 2013

MAHA MANGALA SUTTA (Sutta tentang Berkah Utama)

EVAMME SUTAM,
EKAM SAMAYAM BHAGAVA, SAVATTHIYAM VIHARATI, JETAVANE ANATHAPINDIKASSA ARAME. ATHA KHO ANATHARA DEVATA, ABHIKKANTAYA RATTIYA ABHIKKANTAVANNA KEVALAKAPPAM JETAVANAM OBHASETVA. YENA BHAGAVA TENUPASANKAMI, UPASANKAMITVA BHAGAVANTAM ABHIVADETVA EKAMANTAM ATTHASI, EKAMANTAM THITA KHO SA DEVATA BHAGAVANTAM GATHAYA AJJHABASI:

Demikianlah telah kudengar:
Pada suatu ketika Sang Bhagava menetap di dekat Savatthi, dihutan Jeta di Vihara Anathapindika. Maka datanglah dewa, ketika hari menjelang pagi, dengan cahaya yang cemerlang menerangi seluruh hutan Jeta menghampiri Sang Bhagava, menghormat Beliau lalu berdiri di satu sisi. Sambil berdiri disatu sisi, dewa itu berkata kepada Sang Bhagava dalam syair ini:
BAHU DEVA MANUSSA CA
MANGALANI ACINTAYUM
AKANKHAMANA SOTTHANAM
BRUHI MANGALAMUTTAMAM
Banyak Dewa dan manusia
Berselisih paham tentang berkah
Yang diharapkan membawa keselamatan;
Terangkanlah, apa Berkah Utama itu?
ASEVANA CA BALANAM
PANDITANANCA SEVANA
PUJA CA PUJANIYANAM
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Tidak bergaul dengan orang yang tidak bijaksana
Bergaul dengan mereka yang bijaksana.
Menghormat mereka yang patut dihormat,
Itulah Berkah Utama
PATIRUPADESAVASO CA
PUBBE CA KATAPUNNATA
ATTASAMMAPANIDHI CA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Hidup di tempat yang sesuai
Berkat jasa-jasa dalam hidup yang lampau
Menuntun diri ke arah yang benar,
Itulah Berkah Utama
BAHUSACCAN CA SIPPAN CA
VINAYO CA SUSIKKHITO
SUBHASITA CA YA VACA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Memiliki pengetahuan dan keterampilan
Terlatih baik dalam tata susila
Ramah tamah dalam ucapan,
Itulah Berkah Utama
MATAPITU UPATTHANAM
PUTTADARASSA SANGAHO
ANAKULA CA KAMMANTA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Membantu ayah dan ibu
Menyokong anak dan isteri
Bekerja bebas dari pertentangan,
Itulah Berkah Utama
DANANCA DHAMMACARIYA CA
NATAKANANCA SANGAHO
ANAVAJJANI KAMMANI
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Berdana dan hidup sesuai dengan Dhamma
Menolong sanak keluarga
Bekerja tanpa cela,
Itulah Berkah Utama
ARATI VIRATI PAPA
MAJJAPANA CA SANNAMO
APPAMADO CA DHAMMESU
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Menjauhi, tidak melakukan kejahatan
Menghindari minuman keras
Tekun melaksanakan Dhamma,
Itulah Berkah Utama
GARAVO CA NIVATO CA
SANTUTTHI CA KATANNUTA
KALENA DHAMMASAVANAM
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Selalu menghormat dan rendah hati
Merasa puas dan berterima kasih
Mendengarkan Dhamma pada saat yang sesuai,
Itulah Berkah Utama
KHANTI CA SOVACASSATA
SAMANANANCA DASSANAM
KALENA DHAMMASAKACCHA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Sabar, rendah hati bila diperingatkan
Mengunjungi para pertapa
Membahas Dhamma pada saat yang sesuai,
Itulah Berkah Utama
TAPO CA BRAHMACARIYANCA
ARIYASACCANA DASSANAM
NIBBANASACCHIKIRIYA CA
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Bersemangat dalam menjalankan hidup suci
Menembus Empat Kesunyataan Mulia
Serta mencapai Nibanna,
Itulah Berkah Utama
PHUTTHASSA LOKADHAMMEHI
CITTAM YASSA NA KAMPATI
ASOKAM VIRAJAM KHEMAM
ETAMMANGALAMUTTAMAM
Meski tergoda oleh hal-hal duniawi
Namun batin tak tergoyahkan,
Tiada susah, tanpa noda, penuh damai;
Itulah Berkah Utama
ETADISANI KATVANA
SABBATTHAMAPARAJITA
SABBATTHA SOTTHIM GACCHANTITAN
TESAM MANGALAMUTTAMAM` TI.
Karena dengan mengusahakan hal-hal itu
Manusia tak terkalahkan di mana pun juga
Serta berjalan aman ke mana juga,
Itulah Berkah Utama.



Mobile Blogging from here.

Wednesday, April 18, 2012

Cerita Baru

Dua ribu dua belas, setahun sudah masa perubahan tiba, masa paling kelam, gelap, keadilan diperhitungkan disini. Dimana semua semangat dibakar separuhnya sia-sia. Semoga sadar dengan apa yang dilakukan. Newton menjadi saksi bisu atas usaha meruntuhkan tembok Berlin. dengan momentum kecemburuan.

Bulan ketiga, kejemuan itu dipudarkan dengan impian semu datangnya sehelai harapan dari sebercak aura Misa Campo yang masih ragu untuk diabadikan dalam kotak hitam.

Bingung? apa yang mereka lakukan itu? Menyesal tidak bisa menaklukan dengan baik si banteng besi. Padahal sepertinya itu lebih mudah dari menyelesaikan integral lipat tiga, tidak butuh ijazah SMA pula. Gigi itu bermuda, jingga itu kuncinya. Itulah kehidupan, tidak sempurna.

Mengapa Tommy dan Gina bisa bertahan? jawabannya "livin' on the prayer" kata Bon Jovi. Perbedaan pendapat dalam diri mengenai rasa berayukur dan dorongan untuk maju pun membunuh satu persatu sahabat, ada yang cepat tetapi ada pula yang bertahan lama. Sungguh tidak sesuai dengan pancasila memang.

Kembali dari dirinya, haruskah dikejar? haruskah mengakui kenyataan yang sebenarnya tidak memalukan tetapi mengambil resiko. "Bitch Please" sahut 9GAG. Pola ini tidak benar? ternyata kekuatan diri sendiri tidak dapat mengubah dunia. Setelah ditembak dengan 6 peluru, 2 diantaranya belum selesai, apakah harus mengalami ini semua. Make Over! solusinya, atau dengan seperti biasa? berlari menguras tenaga dan berfikir jernih setelah capek diburu nyawa. Lumayan, sedikit menghibur.

Kompetisi adalah termasuk seleksi alam, keadilan menjadi faktor yang menentukan. Saat semua berjalan beriringan, bersemilah cinta. Bagaimana dengan arti denotasinya? apa kesimpulannya? mari nyatakan, mari kukuhkan dan mari taklukan. Mudah memang menulis, terapi sulit memang dimengerti. layaknya memiliki wajah anti jerawat dan memiliki stamina sedikit tidur. Sangat senjang dengan dirimu tempo hari, dimana seisi dunia tahu tentang tidurmu yang bodoh.

Harus kubayar mahal untuk menuju teater mimpi, urungkan niat, kembali berfikir kedepan untuk janji anak muda kepada orang tuanya. sedikit gaul itu dibutuhkan, akan dibeli 2 untuk Gohan kepada Lili. Doakan agar itu tercapai, karena fokusku tidak bertitik dan setanmu meracuni.

Yang ke 23 adalah dorongan motivasi, ungkapan keceriaan dan introspeksi melihat diri dimasa lalu. Basejam kurang lebih bernyanyi "ingin apa aku ini? tak kumengerti... kadang-kadang ingin pergi, kadang ingin sendiri sampai kini ku-tak tahu pasti". Sangat bodoh!

Sore itu, hujan lebat, toko serba ada menjadi pilihan untuk sebotol susu dan sekantung cokelat. Seorang ibu sekitar 40 tahun memegang beberapa lembar kertas berisikan hukum, pasal dan norma. wajah basah menjadi alasan untuk memakai tissue dan mengusapnya, tetapi miris memang dunia minggu ini, bekasnya dibuang saja tanpa ada otak. Terpelajarkah dia? bagaimana dengan anaknya? bagaimana dengan cucunya? calon apple yang jatuh tidak jauh dari pohonnya. [hewan]!

Waisak ini rasanya berbeda, semoga ini pertanda baik, titik terang dari semua kegelapan dan menjadi cambuk pada malam-malam hening ini, darimana harus berjalan? "bimbing nubi yang hina ini suhu" begitu kata para semproter indonesia.

2 mei ini menjadi saksi tidak ada penghargaan dari orang bodoh, pecudang, budak belian dan hanya memerintah. Berani bicara dibelakang, tetapi bertopeng didepan. Persetan! mengolok orang dengan kalimat "penjilat" tetapi ia pun menjilat, apa bedanya dengan maling teriak maling? pengecut!

Janji hari ini adalah "menghargai orang, karena dengan penghargaan, orang tersebut akan menghormati". dan pasti semua manusia tidak ingin diperintah oleh orang bodoh! camkan itu orang tua! maaf pastinya sulit dimengerti ya? start-lah dari menghargai orang lain.

Itulah aku kemarin, lihat saja esok hari!

Friday, August 6, 2010

Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana (Part III)

Pada bagian ketiga ini masih dalam khotbah Sang Buddha di Istana Trayatrimsa Varga Rddhidhi Jnanam. Pada begian ketiga ini dijelaskan mengenai Perbandingan Jasa-jasa Berdana, Dewa Bumi Sang Prthivi Pelindung Dharma, Manfaat dari Melihat dan Mendengar, Amanat Sang Buddha Kepada Dewa dan Manusia. Berikut penjelasannya:

Didunia Jambudvipa terdapat banyak raja, menteri, pegawai negeri, Maha Grhapati, Maha Ksatria, Maha Brahmana, dan sebagainya. Seandainya mereka bertemu dengan umat yang miskin merana, bahkan bertubuh cacat, bisu, tuli, buta, dan sebagainya, bila ketika hendak berdana mereka bersikap ramah disertai senyuman atau menyuruh orang melakukannya dengan lemah lembut, maka pahala yang diperoleh akan sama dengan berdana kepada Buddha yang banyaknya bagaikan butiran pasir sungai Gangga; seandainya bertemu dengan Vihara, Stupa, atau Buddharupang, Bodhisattvarupang Sravakarupang, Pratyekkabuddharupang, lalu mereka merawatnya sehingga orang dapat melakukan puja bhakti, pemujaan semacam ini adalah berdana maha besar. Maka akan dilahirkan di Surga Trayatrimsa menjadi Raja Sakra dan menikmati kebahagian Surga hingga 3 kalpa, jika menyalurkan karma tersebut kepada para mahluk yang berada di seluruh Dharmadhatu, maka akan menjadi Maha Brahma Raja selama 10 kalpa. Seandainya bertemu Stupa, Vihara atau Buddharupang, serta Sutra-sutra peninggalan zaman dahulu, lalu memperbaiki, memelihara sendiri atau bersama-sama akan mendapat rakhmat Buddha, maka dalam ratusan ribu kelahiran akan menjadi Raja Cakravartin dan yang membantu akan menjadi raja kecil, dan jika disalurkan kepada semua mahluk hidup maka akan memperoleh pahala menjadi seorang Buddha; jika ada yang bertemu orang tua, yang sakit dan yang melahirkan, sesaat merasa iba dan memberi obat, makanan, minuman, tempat tidur, sehingga mereka merasa selamat sentosa, jasa seperti ini maka dalam masa 100 kalpa akan menjadi penguasa Surga Suddhavasa kemudian dalam masa 200 kalpa akan menjadi penguasa Sad Karmadhatu dan akhirnya menjadi Buddha, takkan terjerumus kea lam kesengsaraan untuk selama-lamanya, bahkan dalam ratusan ribu kelahiran mereka takkan mendengar suara kesedihan. Hukum berdana itu sangatlah menakjubkan, demikianlah sabda Sang Buddha mengenai jasa-jasa berdana
Menurut pendapat Dewa Bumi Sang Prthivi Pelindung Dharma jika menyediakan satu tempat yang bersih di sebelah selatan dalam rumahnya, kemudian membuat ruang dari tanah, batu bamboo, atau kayu, dan meletakkan rupang Ksitigarbha Bodhisattva yang terbuat dari emas atau peras atau tembaga atau besi dan tiap hari dihormati dan dipuja dengan dupa, sambila memuliakan nama-Nya dan jasa-jasa-Nya. Tempat pemukiman pemuja itu akan menjadi selamat sentosa dan mendapat 10 keuntungan, yaitu:
  1. tanah atau kebunnya menjadi subur, akan menghasilkan panen yang melimpah
  2. sekeluarga akan sehat selalu, rumahnya aman tentram
  3. leluhurnya, orang tua dan keluarganya yang almarhum akan dilahirkan di Surga
  4. keluarga yang masih ada akan mendapatkan keberuntungan dan panjang usia
  5. segala permohonan akan terpenuhi
  6. terhindar dari musibah banjir dan kebakaran
  7. terhindar dari kerugian dan pemborosan, selalu tercukupi
  8. tiada mimpi buruk yang mengganggu
  9. selalu dilindungi para dewa Bumi dan dewa Surga
  10. selalu bertemu dan dibantu para suciwan yang bijak hingga si pemuja mudah mencapai kebodhian
Ksitigarbha Bodhisattva mempunyai hubungan batin yang erat dengan umat Jambudvipa. Ketika khotbah selesai, Sang Buddha mengucapkan sebuah gatha, demikianlah gathanya:
Kekuatan Ksitigarbha Bodhisattva sungguh luar biasa
Mengisahkannya jutaam kalpa pun tak kunjung habis!
Mendengar, melihat, dan menghormat-Nya sesaat saja,
Manfaatnya bagi dewa dan manusia tak terbatas!

Baik pria, wanita, maupun dewa, naga,
Yang akan terjerumus ke alam sengsara karena saatnay tiba,
Berkat berlindung kepada Ksatria Sejati setulus hati,
Usia bertambah, karma berat pun lenyap musnah!

Semasa kecil kehilangan cinta kasih ayah bunda,
Entah mereka berada di alam mana,
Kakak adik serta sanak keluarga.
Sejak lahir tak mengenal satu sama lain.
Dengan melukis gambar Ksatria Sejati,
Menghormat, memuja setulus hati,
Tida atau tujuh hari memuliakan nama-Nya,
Beliau menampakkan tubuh Anantayakaya!
Menunjukkan tempat sanak keluarganya berada.
Sekalipun telah terjerumus kea lam sengsara,
Dapat ditolong-Nya terbebas dari derita!
Jika saja setia percaya teguh tak tergoyahkan,
Kelak pasti akan tercatat sebagai calon Buddha!

Jika ingin mencapai Anuttara Samyaksambodhi,
Hingga terbebaskan dari penderitaan Triloka,
Setelah tumbuh Boddhicittanya
Hormat dan pujalah dulu Ksatria Sejati ini,
Segala cita-cita segera akan terkabul,
Tiada lagi karma penghalang
Menuju kesadaran Agung!

Ada orang berhasrat mengkaji Sutra Mahayana,
Ingin menyebrangkan umat ke Pantai Bahagia,
Meskipun tekad ini besar tidak terperikan,
Tiap menghapal terlupakan, waktu terbuang percuma,
Karena karma buruk terdahulu belum terhapuskan,
Tak teringat sebait Gatha sekata Sutra.
Puja bhakti kepada Ksitigarbha Bodhisattva,
Dengan dupa, bunga, busana, makanan, minuman, serta barang berharga.
Letakkan secawan air bersih di altar Ksatria Sejati,
Satu hari satu malam kemudian minumlah dengan khidmatnya,
Setelah itu pantang daging, alkohol, dusta, dan wanita.
Dua puluh satu hari jangan membunuh sesame mahluk,
Sepenuh hatikenang Ksatria Sejati.
Dalam mimpi akan berjumpa Ksitigarbha Bodhisattva Anantayakaya,
Bangun dari mimpi keenam indera jernih bersih,
Sutra, Buddha Dharma tertanam dalam sanubari abadi,
Daya Prabhava Ksitigarbha tidak terlukiskan,
Membuat orang demikian bijak dan bestari.

Umat yang menderita miskin papa lagi berpenyakit,
Kediamannya buruk sekali, keluarganya meninggalkan pergi,
Atau selalu ketakutan di dalam mimpi,
Begitu pula mengalami kegagalan ekonomi,
Pujalah Sang Ksitigarbha sepenuh hati,
Berangsur penderitaan akan lenyap sama sekali,
Mimpi yang buruk takkan mengganggu lagi,
Sandang pangan cukup selalu dilindungi Mahluk Suci yang berbudi!
Jika harus mendaki gunung menuruni lembah, masuk hutan rimba, mengarungi lautan lepas,
Bertemu satwa buas lagi dihadang orang jahat,
Atau datang lagi Setan, Iblis serta Badai ganas,
Segala rintangan dan berbagai penderitaan,
Ingatlah Ksitigarbha Bodhisattva sebelum berangkat,
Pujalah Neliau dengan tulus ikhlas penuh khidmat,
Meskipun berada dalam kesulitan maha luar-biasa,
Sekejap sirna lenyap semua berkat Buddha Dharma.
...
Amanat Sang Buddha dalam pertemuan agung antara ratusan ribu koti Buddha, Bodhisattva Mahasattva, dewa, naga, kedelapan kelompok mahluk, para manusia yang belum terbebas dari Triloka adalah agar mereka tidak terjerumus ke dalam alam kesengsaraan barang satu hari satu malam juga.
Umat jambudvipa memiliki sifat tabiatnya dan kemauannya tidak menentu, wataknya mudah mengarah kepada keburukan-keburukan. Sekalipun mereka menyatakan keinginan baiknya, tak lamnya kemudian mereka berubah. Jika mereka bertemu dengan keburukan-keburukan, hal itu akan cepat berkembang subur.
Ketika itu Sang Buddha mengucapkan Gatha:
“Dewa manusia di masa yang akan datang,
Kuserahkan kepada engkau dengan penuh keyakinan,
Selamatkan mereka denagn daya Maha Prabhava, Sekali-kali jangan ada yang terjerumus ke salah satu alam kesengsaraan.
Pada masa yang akan datang, jika terdapat seorang pria atau wanita yang berbudi, melihat gambar Ksitigarbha Bodhisattva dan mendengar Sutra ini lalu memuja Beliau dengan dupa, dan memuliakan nama-Nya, maka putra-putri yang berbudi tersebut akan memperoleh 28 macam manfaat seperti berikut:
  1. Selalu dilindungi Dewa, Naga, Asta Gatya, selamat sentosa.
  2. Jasa-jasa dan kebajikan makin bertambah.
  3. Terkumpul benih kebaikan dari Buddha Dharma.
  4. Tidak mundur dari jalan Anuttara Samyaksambodhi.
  5. Cukup sandang pangan.
  6. Terhindar dari segala musibah dan wabah penyakit.
  7. Terhindar dari banjir dan kebakaran.
  8. Terbebas dari pencurian dan perampokan.
  9. Selalu disegani orang.
  10. Selalu mendapat dukungan dan bantuan dari para Mahluk Suci.
  11. Yang wanita akan dapat menjadi pria pada kehidupan yang akan datang.
  12. Dapat dilahirkan sebagai putrid raja atau bangsawan.
  13. Mendapatkan paras muka yang cantik elok, dimana-mana sidukai orang.
  14. Selalu mendapat kesempatan untuk dilahirkan di alam Surga.
  15. Akan lahir sebagai raja atau kepala Negara.
  16. Dapat mengetahui kehidupan di masa yang silam.
  17. Cita-citanya selalu terkabul.
  18. Keluarganya selalu tentram dan bahagia.
  19. Semua malapetaka lenyap.
  20. Terhindar dari tiga jalur kesengsaraan.
  21. Semua jalan bebas hambatan.
  22. Mimpinya selalu indah.
  23. Leluhurnya ikut terbebas dari belenggu penderitaan.
  24. Jika leluhurnya pernah menanam kebaikan, dapat membantunya lahir di Surga.
  25. Mendapat pujian para suciwan.
  26. Cerdas tangkas, cekatan, dan tajam pikirannya.
  27. Memiliki jiwa yang welas asih.
  28. Akhirnya akan mencapai Kebuddhaan.
Apabila para Dewa, Naga, Malaikat Bumi, Malaikat Surga, para Raja Setan, dan pengikutnya, baik yang berada di masa sekarang maupun di masa yang akan datang, setelah mendengar nama Ksitigarbha Bodhisattva, lalu mereka memberi hormat kepada rupang-Nya atau mereka pernah mendengar kisah suci Beliau, lalu memuji jasa-jasa Beliau serta menghormati-Nya dengan tulus ikhlas, maka mereka akan mendapatkan 7 macam manfaat sebagai berikut:
  1. Mereka akan cepat meningkat kea lam yang lebih suci.
  2. Karma buruk yang diperbuat di masa yang silam akan lenyap.
  3. Selalu dilindungi oleh para Buddha.
  4. Kesadaran Bodhi yang telah dicapai takkan menyusut.
  5. Kekuatan dan kebijakan makin bertambah.
  6. Memiliki daya pengetahuan di masa silam dan masa yang akan datang.
Ketika itu di Surga Trayatrimsa turun hujan berbagai bunga harum semerbak, jubah surga, dan ratna mutu manikin sebagai persembahan puja kepada Sakyamuni Buddha dan Ksitigarbha Bodhisattvs. Juga sebagai tanda terima kasih yang mendalam atas jasa-jasa Sang Buddha yang telah memberikan khotbah yang tiada ternilai dan penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Ksatria Sejati Ksitigarbha Bodhisattva.

Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana (Part II)

Sebenarnya bagian kedua ini adalah kelanjutan peristiwa di Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam pada bagian pertama, bagian kedua juga dibagi menjadi sub bagian lagi yang berjudul Berbagai Macam Neraka dan Namanya, Sanjungan dan Pujian Sang Tathagata, Manfaat bagi yang Hidup dan yang Meninggal Dunia, Pujian Yamaraja dan Pengikutnya, Manfaat Menyebut Nama Buddha. Berikut penjelasannya:

Neraka seperti yang telah dijelaskan sedikit dalam bagian pertama, berada di sebelah timur Jambudvipa terdapat di sebuah dunung besar bernama Cakravada. Di dalam gunung ini gelap sekali dan sulit ditembus cahaya bulan dan matahari. Di dalamnya terdapat Neraka utama yang maha besar bernama Anantarya dan disebelahnya adalah Avici. Selain itu terdapat neraka-neraka lainnya seperti Neraka Pojok Empat, Neraka Pedang Terbang, Neraka Panah Api, Neraka Gunung Berapit, dan neraka-neraka lainnya. Dalam neraka-neraka tersebut terdapat lagi neraka-neraka kecil yang tak tentu jumlahnya. Hukuman-hukuman dineraka sangatlah beragam, dari mencabut lidah, dibajak oleh kerbau besi hingga lumat, mencabut jantung, dimakan Yaksa, dimasak dengan air mendidih, disiksa dengan menyentuh tiang tembaga panas hingga hangus, ada yang dibakar dengan api yang berkobar dashyatnya, ada yang dilemparkan ke Neraka yang penuh dengan salju hingga kedinginan serta mati beku seketika, ada yang dilemparkan ke Neraka yang berisi air kotor berbau busuk tak terperikan hingga mati sesak napas, dan hukuman kejam lainnya. Semua ini akibat karma umat yang bersangkutan. Demikian penjelasan mengenai karma yang dijelaskan oleh Bodhisattva Ksitigarbha.
Sang Buddha berlanjut dan menjelaskan jika pada masa mendatang, apabila putra-putri berbudi yang setelah mendengar nama Bodhisattva Mahasattva Ksitigarbha, lalu atas kesadaran hati sanubari yang sedalam-dalamnya memberi hormat, memuji, dan merenungkan jasa-jasa Beliau, dengan demikian si pemuja telah memusnahkan karma buruknya sebanyak 33 kalpa; seandainya terdapat putra-putri berbudi yang melukis gambar Bodhisattva Ksitigarbha atau membuat rupang-Nya kemudian menghormatinya dengan mengadakan puja bhakti, maka si pemuja tersebut akan mendapatkan kesempatan lahir di Surga Trayatrimsa sebanyak serratus kali berturut-turut setelah meninggal dunia! Jika masa hidup di Surga telah habis, ia masih dapat tumimbal lahir di alam manusia sebagai raja atau bangsawan yang mulia dan ia takkan terjerumus ke dalam alam sengsara; apabila terdapat seorang wanita yang tidak senang akan parasnya dan sakit-sakitan lalu ia memberi hormat dan bersembahyang di hadapan rupang Bodhisattva Ksitigarbha, walaupun lamanya sekejap saja, di masa yang akan datang ia akan memiliki paras yang amat cantik dan sehat hingga ratusan ribu kali ia dilahirkan; jika terdapat putra-putri berbudi yang sering memuji jasa-jasa Bodhisattva Ksitigarbha dengan diiringi nyanyian dan tarian rohani disertai dengan persembahan bunga-bungaan, dupa, dan sebagainya didepan gambar-Nya atau menyadarkan seseorang datau beberapa orang untuk berlindung kepada Sang Triratna; maka umat tersebut baik di masa sekarang atau di masa yang akan datang akan dilindungi oleh ratusan ribu malaikat yang berbudi siang dan malam, tidak ada kabar buruk dan tidak ada musibah yang menimpa dirinya; dan sebagainya. Ini semua disebabkan menghormati Bodhisattva Ksitigarbha dengan tulus ikhlas hingga mendapat pahala yang demikian membanggakan. Sebaliknya juga, jika dimasa yang akan datang terdapat umat manusi yang berkelakuan jahat, mengejek, menyindir, menghina, serta menganggap persembahan tidak ada gunanya, bahkan berani menertawakan atau membuat fitnahan, mengajak mahluk-mahluk lain bersama melakukan kejahatan, meskipun itu hanya berupa pikiran sekecil apapun; mahluk ini akan terjerumus ke dalam Neraka Avici, beribu-ribu kali lalu dilahirkan di alam peta lalu dilahirkan kembali menjadi manusia yang hina serta cacat dan batinnya selalu dipengaruhi sengan karmanya dan tak lama akan kembali ke alam sengsara lagi; apalagi yang dengan sengaja berusaha memusnahkan Buddha Dharma. Ada sepuluh hari yang suci (Dasa Upavasatha), yaitu tanggal 1, 8, 15, 18, 23, 24, 28, 29, 30 menurut tanggalan bulan yang merupakan hari pengumpulan karma, jika dalam sepuluh hari tersebut dapat membaca Sutra Bodhisattva Ksitigarbha Purva Pranidhana dihadapan gambar Buddha dan Bodhisattva, maka daerah empat penjuru mata angin seluas satu yojana akan terhindar dari malapetaka, seisi anggota keluarganya takkan tertimpa musibah atau terkena penyakit parah, selalu cukup sandang pangan, penghidupannya sejahtera; walau ada umat yang hanya mendengarkan nama Bodhisattva Ksitigarbha atau melihat gambar Bodhisattva Ksitigarbha atau hanya mendengarkan tiga atau lima atau pun satu bait syair (gatha) kata dari Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana, dalam masa sekarang ini mereka akan merasa hidupnya amat tentram dan di masa yang akan datang mereka dilahirkan dalam keluarga yang mulia dengan paras muka yang rupawan. Bodhisattva Ksitigarbha memiliki daya mahaprabhava yang tak terbayangkan untuk menyelamatkan umat mencapai kebebasan.
Setelah itu Bodhisattva Ksitigarbha melanjutkan, Andaikan di masa yang akan datang atau di masa sekarang, terdapat almarhum yang sesungguhnya akan mendapatkan anugerah dari para suciwan dan akan dilahirkan di alam manusia atau dewa, namun berhubung ketika almarhum meninggal dunia, keluarganya melakukan pembunuhan yang disajikan kepada jin-jin dan setan, akibatnya almarhum terlibat dalam karma buruk itu dan harus mempertanggungjawabkan perbuatan keluarganya itu diakhirat, sehingga terlambatdilahirkan ke alam yang lebih baik. Jika terdapat umat yang sewaktu berada didunia banyak berbuat karma buruk, meski keluarganya telah banyak berbuat amaldan disalurkan kepada almarhum, namun almarhum hanya dapat sepertujuh saja dari jasa-jasa tersebut, yang enam bagian milik keluarga yang berada di dunia. Almarhum yang belum menerima keputusan lahir entah dimana, selama 49 hari selalu mengharapkan keluarganya membuat amal bhakti bagi dirinya, agar secepatnya almarhum terbebaskan dari kesengsaraan, setelah 49 hari almarhum akan menerima keputusan berdasarkan karmanya, jika sanak keluarganya mengadakan amal bhakti dengan mempersembahkan saji-sajian kepada Sang Triratna untuk membantu menyelamatkan almarhum dari kesengsaraan, selama persiapan dan berlangsungnya upacara Upasatha, bekas air pencuci beras, sisa-sisa sayur masakan, dan lain-lain tidak boleh sembarang di buang di lantai, serta makanan yang dipersembahkan tidak boleh dimakan oleh yang menyelenggarakannya, jika peraturan dan tata caranya dilanggar juga penyajiannya tidak memenuhi syarat kebersihan dan tidak rapi, bagi almarhum tidak akan memberikan manfaat apapun juga.
Raja Setan beserta Yamaraja di Istana Trayatrimsa tempat Sang Buddha memberikan khotbah menjelaskan tentang Raja Setan. Raja Setan beragam diantaranya Raja Setan Maha Jahat, Raja Setan Aneka Kejahatan, Raja Setan Pertengkaran, Raja Setan Putih, Raja Setan Macan Putih, Merah dan Penyebar Malapetaka, Raja Setan Terbang, Raja Setan Kilat Petir, Raja Setan Bergigi Serigala, Raja Setan Penelan Binatang, dan Raja Setan lain-lainnya. Setiap Raja Setan memimpin ratusan Raja Setan Muda yang berasal dari Jambudvipa, semua mempunyai tugas dan kedudukan masing-masing. Raja Setan Pengurus Nyawa yang bertugas mengurus kelahiran dan kematian menjelaskan hendaknya umat banyak berbuat kebajikan untuk menambah suasana nyaman dalam rumah tangganya, agar para dewa bumi merasa gembira dan senang memberi perlindungan kepada ibu dan anak, atau setelah bayi lahir dengan selamat janganlah membunuh mahluk berjiwa sebagai santapan yang dihidangkan kepada ibu atau untuk menjamu sanak saudara dan tamu dengan berbagai minuman keras dan lauk pauk yang beraneka ragam disertai dengan hiburan bermain musik. Hal itu semua akan mengakibatkan ibu dan anaknya berkurang kesejahteraannya. Begitupun saat mereka akan meninggal dunia, baik yang jahat ataupun tidak, akan dibantu oleh Raja Setan Pengurus Nyawa agar tidak terjerumus ke alam kesengsaraan, karena jika meninggal dunia akan datang ratusan iblis jahat menjelma sebagai orang tua atau sanak keluarganya menjemput dan membujuk almarhum untuk ikut mereka ke alam kesengsaraan. Ketika meninggal dunia, kesadaran akan amat lemah dan bingung membedakan baik dan buruk, pikiran keruh sekali, pengelihatan dan pendengaran kabur dan mudah terpedaya oleh iblis jahat, saat itu sanak keluarga perlu secepatnya mengadakan puja bhakti dengan pembacaan Sutra Buddha, memuliakan nama Buddha, Bodhisattva Mahasattva, dengan demikian almarhum dapat terbebas dari alam kesengsaraan.
Ksitigarbha Bodhisattva juga memberikan satu cara yang mudah dan bermanfaat bagi para umat di masa yang akan datang juga dapat dimanfaatkan dalam menghadapi kelahiran dan kematian yang mereka alami dari masa ke masa. Jika terdapat seorang meninggal dunia, saat itu seluruh anggota atau hanya seorang saja menyebut nama Buddha dengan suara lantang secara berulang-ulang, karma berat pancanantarya yang dilakukan almarhum akan mendapatk kesempatan terhapus; apalagi jika seorang yang akan meninggal dunia dapat menyebut-nyebut nama Buddha, maka ia akan mendapatkan kebahagiaan yang tak terbatas dan terhapuskan segala karma buruknya. Semua mahluk yang berada di masa sekarang atau masa yang akan datang, naik dewa ataupun manusia, lelaki atau wanita, bila mereka dapat menyebut salah satu nama Buddha atau nama para Buddha, mereka akan mendapatkan kebajikan yang diada bandingnya, banyak sekali manfaatnya, baik saat mereka lahir maupun ketika meninggal dunia mereka takkan terjerumus ke alam kesengsaraan, tapi akan menikmati kebahagiaan!

Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana (Part I)

Pada bagian pertama Sutra Ksitigarbha Bodhisattva Purva Pranidhana ini terdapat sub bagian yang berjudul Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam, Pertemuan Badan-badan Jelmaan Ksitigarbha Bodhisattva, Pengamatan atas Karma Mahluk Hidup serta Sebab Akibatnya dan Hukum Karma Mahluk-makhluk Jambudvipa. Berikut penjelasannya:

Pada Bagian ini diceritakan pada suatu ketika dimana Sang Buddha sedang berkhotbah kepada Ibu-Nya di Istana Trayastrimsa Varga Rddhidhi Jnanam dan semua Buddha dan Bodhisattva Mahasattva berkumpul, Sang Buddha bersabda mengenai seba utama apa, melakukan ibadat bagaimana, menyatakan tekad apa, yang itu semua berhasil dicapai oleh Ksitigarbha Bodhisattva. Sang Buddha menceritakan tentang seorang Putri Brahmana yang memiliki ibu yang menganut ajaran sesat dan suka menfitnah Triratna, Putri Brahmana tersebut dengan berbagai cara yang terampil menasehati ibunya, akan tetapi belum ibunya percaya sepenuhnya, ia meninggal dunia dan arwahnya jatuh ke Neraka Avici. Putri Brahmana tesebut tahu akan ibunya yang tidak percaya terhadap hukum karma dan ia tahu ibunya niscaya jatuh kealam sengsara. Secepat mungkin ia menjual rumahnya, lalu ia tukar dengan dupa, bunga, alat pujaan lain dan dipersembahkannya alat pujaan tersebut ke vihara-vihara sambil mengadakan puja bhakti. Karena perbuatan baik Putri Brahmana tersebut, ibunya dilahirkan di Surga dan penghuni Neraka Avici lainnya pun mendapat kebebasan dan dilahirkan di Surga. Ketahuilah, bahwa Putri Brahmana tersebut sekarang adalah Bodhisattva Ksitigarbha
Di Istana Trayastrimsa tersebut berkumpul bada-badan jelmaan Ksitigarbha Bodhisattva, Sang Buddha bersabda tentang susah payahnya Sang Buddha menolong berbagai mahluk hidup agar mereka terbebas dari dukkha dan supaya mahluk hidup yang berada di dunia Saha hingga pada masa Maitreya Bodhisattva lahir, semuanya terbebas dari penderitaan. Ketika itu semua jelmaan Ksitigarbha Bodhisattva dari berbagai dunia dan sejak berkalpa-kalpa yang lalu bersatu menjadi tubuh asalnya dan memberi penghormatan dengan perasaan terharu dan berlinangan air mata terhadap Sang Buddha Sakyamuni.
Ibu Mahamaya beradara memberi hormat kepada Bodhisattva Ksitigarbha dan bertanya mengenai hukum karma para mahluk dari dunia Jambudvipa. Bodhisattva Ksitigarbha menjelaskan hukuman terberat dari Neraka adalah apabila terdapat seorang anak durhaka yang tidak pernah mematuhi orang tuanya, bahkan ia berani membunuh orang tuanya. Selain itu, berani melukai badan Buddha atau menfitnah Triratna, tidak menghormati Kitab Suci, menyakiti Bhiksu, berani menodai Bhiksuni, melakukan perbuatan dursila di vihara atau berani membunuh mahluk bernyawa di vihara, menyamar sebagai sramana dan ia memboroskan atau mencuri harta benda milik Sangha, menipu kulapati, melanggar Vinaya, dan melakukan bermacam-macam karma buruk. Hukuman untuk karma seperti itu adalah akan terjerumus ke Neraka Avici dan masa hukumannya hingga jutaan koti kalpa, sulit memperoleh kesempatan keluar dari situ dan tidak dapat mohon istirahat sesaat pun, menderita terus tak berkesudahan. Neraka Avici adalah neraka terbesar dari jutaan buah neraka yang kelilingnya ± 8 juta yojana, semua dilengkapi tembok besi membara dasyat 10 ribu yojana dan semua berada di Gunung Cakravada, Neraka Avici kelilingnya 18 ribu yojana. Hukum karma yang berkaitan dengan Neraka Anantarya yang sebagian besar merupakan hukum karma yang berkaitan dengan Neraka Avici; antara lain :
  1. mendapat penderitaan siang malam tiada henti selama berkalpa-kalpa tiada terputus
  2. berapa pun jumlah orang hukuman, akan terasa sesak padat
  3. tiada yang dapat menghindar dari suatu hukuman, baik siksaan garpu tajam, binatang bertubuh besi seperti garuda, ular, serigala, anjing, atau lesung serta alu panas menumbuk tubuh, atau tubuhnya dilindah, digergaji, dipahat, dikikir, atau diiris-iris menjadi berkeping-keping, atau dimasukan keperiuk besi berisi air mendidih, atau dipaksa menaiki keledai atau kuda besi yang panas lalu dibakar dan jika lapar diberi makan peluru besi dan jika haus diberi minum cairan besi.
  4. tiada satu alas an pun untuk meringankan hukuman, baik wanita atau lelaki, minoritas atau mayoritas, lanjut usia atau muda belia, bangsawan atau hina dina, naga atau mahluk suci, dewa atau setan. Siapa saja yang mempunyai karma berat harus menerima hukumannya.
  5. selama hukuman belum habis, akan berulang kali tumimbal lahir
Keadaan Neraka Avici rumit sekali dan sulit diterangkan. Setelah mendengarkan penjelasan Bodhisatva Ksitigarbha, Ibu Mahamaya merasa cemas dan sedih!, dan kembali beradara kepada Bodhisatva Ksitigarbha.
Disana Sang Buddha banyak bersabda dan bercerita mengenai kisah-kisah yang menjadi panutan bagi mahluk hidup. Salah satu kisahnya adalah kisah seorang Putri Jyotinetra yang bermula saat ia bertemu dengan Arahat dan menyediakan makanan untuk memuja Arahat tersebut, lalu Arahat tersebut bertanya kepada siapa jasa-jasa Putri tersebut akan disalurkan ?. Putri Jyotinetra menjelaskan akan menyalurkan kepada ibunya yang telah meninggal dunia. Putri tersebut menjelaskan bahwa ibunya gemar sekali makan anak ikan dan labi-labi (sejenis mahluk bernyawa) yang digoreng atau dimasak dengan sayur, hingga banyaknya ± 10 juta kali nyawanya. Sang Arahat dengan perasaan welas asih menjelaskan dengan menyebut nama Buddha dengan sepenuh hati dan mengadakan puja bhakti di depan Buddharupang akan melindungi yang telah meninggal maupun yang masih hidup. Setelah itu Putri Jyotinetra segera menjual semua barang kesayangannya untuk mendapatkan gambar Buddha Suddhapadmanetra dan dipujanya dengan hikmat, karena terharu ia pun menangis. Saat ia tidur, tiba-tiba ia bermimpi melihat Buddha yang amat besar dan memancarkan sinar keemasan dan bersabda akan kelahiran kembali ibunya dari alam sengsara di rumahnya.
Beberapa lama kemudian seorang Pramuwisma yang sedang mengandung melahirkan seorang bayi laki-laki, ketika bayi itu melihat putri Jyotinetra lalu ia menangis dan menjelaskan bahwa ia adalah ibunya yang baru saja terjerumus ke alam kesedihan karena melakukan 2 karma berat yaitu pembunuhan dan ucapan kotor serta menfitnah, dan karena jasa-jasa anaknya tersebut ia tidak dapat keluar dari kesengsaraan yang amat menyedihkan dan sulit diceritakan. Mendengar itu Putri Jyotinetra menangis dan ia berikrar akan memberikan nadir utamanya kepada Sang Buddha yang berada di sepuluh penjuru jagad. Perlu diketahui Putri Jyotinetra tidak lain adalah Bodhisattva Ksitigarbha. Ketika itu Sang Buddha juga menjelaskan tentang hukum karma yang menjelaskan seandainya terdapat umat yang sengaja melakukan pembunuhan akan mengakibatkan usia pendek atau mati muda; yang melakukan pencurian akan mengakibatkan kemiskinan dan sengsara; yang melakukan perbuatan dursila akan mengakibatkan dirinya dilahirkan di alam unggas; yang melakukan ucapan kasar akan mengakibatkan rumah tangganya tidak harmonis; yang melakukan fitnahan akan mengakibatkan bisu atau penyakit mulut menahun; yang senang marah atau membenci akan mengakibatkan cacat dan berparas jelek; yang suka berburu akan mati ketakutan, yang durhaka kepada orang tuanya akan terkena bencana alam; yang suka menangkap anak binatang akan terpisah dan terpencar jauh dari sanak saudaranya; menfitnah Sangha akan buta, tuli, bisu; menghina Buddha Dharma akan lama dihukum di alam sengsara; yang menodai Sangha dan mengotori tempat suci akan dilahirkan di alam binatang; dan masih banyak lagi. Demikianlah hukum karma, namun Ksitigarbha Bodhisattva tetap ulet terus menerus berusaha dengan segala cara yang terampil untuk menyelamatkan mereka mencapai pembebasan.

Sutra Bakti Seorang Anak

Demikian yang kubaca dan Demikian yang Ia dengar. Sang Buddha berbicara tentang Sutra kasih yang mendalam dari orang tua dan kesulitan untuk membalasnya (Sutra Bakti Seorang Anak).
Janin tumbuh dalam kandungan selama sepuluh bulan perhitunganCandra Sengkala, hidup janin tidaklah menentu. Pada bulan kedua, janin menjadi kental seperti susu kental. Pada bulan ketiga, ia seperti darah yang mengental. Pada bulan keempat, janin mulai terwujud sedikit seperti manusia. Selama bulan kelima dalam kandungan, kelima anggota badan anak mulai terbentuk. Pada bulan keenam kehamilan, anak mulai mengembangkan inti keenam alat indera (5 indera ditambah pikiran). Selama bulan ketujuh, ketiga ratus enam puluh tulang-tulang dan persendian terbentuk , dan kedelapan puluh empat ribu pori-pori rambut juga telah sempurna. Dalam bulan kedelapan kehamilan, kecerdasan dan sesembilan lubang terbentuk. Pada bulan kesembilan, janin telah belajar menyerap berbagai zat makanan. Bila anak itu berbakti dia akan lahir dengan telapak tangan disatukan sebagai tanda hormat dan kelahiran itu akan aman dan baik. Tetapi, bila anak itu sangat pemberontak sifatnya hingga melakukan kelima perbuatan jahat maka dia akan merusak kandungan ibunya, mengoyak jantung dan hati ibunya, dan akan tersangkut di tulang-tulang ibunya dan kelahirannya akan seperti sayatan seribu pisau atau seperti seribu pedang tajam menikam jantungnya. Itulah kesakitan-kesakitan yang terjadi dalam kelahiran anak nakal yang pembangkang. Berikut adalah 10 jenis kebaikan yang diperbuat oleh seorang ibu kepada anaknya:
  1. Kebaikan di dalam memberikan perlindungan dan penjagaan selama anak dalam kandungan.
  2. Kebaikan dalam menanggung penderitaan selama kelahiran.
  3. Kebaikan untuk melupakan semua kesakitan begitu anak telah dilahirkan.
  4. Kebaikan dari memakan bagian yang pahit bagi dirinya dan menyimpan bagian yang manis bagi anak.
  5. Kebaikan untuk memindahkan anak ke tempat yang kering dan dirinya sendiri berbaring di tempat yang basah.
  6. Kebaikan menyusukan anak pada payudaranya dan memberi makan serta membesarkan anak.
  7. Kebaikan dalam membersihkan yang kotor.
  8. Kebaikan dari selalu memikirkan anak bila dia berjalan jauh.
  9. Kebaikan karena kasih sayang yang dalam dan pengabdian.
  10. Kebaikan karena rasa welas asih yang dalam dan simpati.
Sutra ini disebut Sutra Kasih yang Mendalam dari Orang Tua dan Kesulitan Membalasnya

Monday, July 5, 2010

Nasihat Suci Buddha Chi Kung


Konon kabarnya hidup sekitar tahun 1130 – 1209. Terlepas dari masalah apakah benar Chi Kung pernah lahir atau tidak, banyak hal yang dapat kita pelajari dari sejarah / legenda / cerita2 perjalanan hidup Chi Kung. Seperti umumnya suatu cerita / sejarah di China, ada beberapa versi sejarah tentang Chi Kung. Aliran Mahayana mengakui Chi Kung adalah titisan dari Lohan Penakluk Naga bertubuh Emas (tolong di koreksi bila salah), dimana hal ini berbeda dengan aliran Maitreya yang mengakui bahwa Chi Kung adalah titisan dari Maitreya.

Riwayat Hidup
Ji Gong dilahirkan dengan nama Li Xiuyuan yang merupakan anak dari Li Maochun. Li Maochun adalah seorang penasehat militer yang sangat dermawan. Hanya saja sejak menikah sampai mencapai usia setengah baya, Li Maochun belum dikaruniai seorang anak. Hal itu membuat para kenalan Li Maochun meragukan kebaikan hatinya. Istri dari Li Maochun adalah seorang yang baik hati dan taat dengan ajaran agama, menyarankan agar Li Maochun untuk menikah lagi. Tapi Li Maochun menolaknya karena merasa istrinya masih muda dan bisa memberikan keturunan. Karena ingin dikaruniai anak, maka suami istri ini merencanakan berangkat ke suatu vihara agar dikaruniai seorang anak. Bahkan sebelum berangkat sang istri sempat cia cai (vegetarian). Pada saat berdoa di ruang Lohan di vihara tersebut, salah satu patung lohan yang ada seakan2 turun ke lantai. Saat melihat hal tersebut kepala vihara menyampaikan selamat kepada Li Maochun karena akan di karuniai anak.

Tak lama kemudian Li Maochun dikaruniai anak laki-laki yang diberi nama Li Xiuyuan. Tak lama Li Xiuyuan lahir, Li Maochun meninggal. Sejak saat itu Li Xiuyuan diasuh oleh ibunya yang tetap setia kepada Li Maochun. Saking setianya ibu Li Xiuyuan, mencatat segala sesuatu yang dikerjakannya setiap hari dan membakarnya agar suaminya (Li Maochun) tahu apa saja yang dia kerjakan. Li Xiuyuan tumbuh menjadi anak yang pintar, bahkan sangat pintar. Saat berusia 7 tahun, Li Xiuyuan sudah dapat menghapal kitab suci dan bahkan mengalahkan teman belajarnya yang lebih tua. Saat berusia sekitar 15 tahun, ibunya meninggal dunia. Saat itu Li Xiuyuan yang sangat sedih makin giat belajar agama Buddha. Paman dari Li Xiuyuan merasa khawatir karena Li Xiuyuan selalu membaca kitab suci agama Buddha. Setelah beberapa lama, saat itu sang paman merasa Li Xiuyuan sudah cukup umur untuk menikah, maka hal ini dibicarakan dengan Li Xiuyuan. Li Xiuyuan menolaknya, tapi sang paman tetap mendesak dan akhirnya memilihkan jodoh untuknya. Saat akan menikah, Li Xiuyuan pergi dari rumah karena ingin mempelajari agama Buddha lebih mendalam dan menjadi Bhikkhu.

Setelah berjalan jauh, tibalah Li Xiuyuan di vihara Ling Yin. Setelah menceritakan kepada Bhikkhu Kepala maksudnya untuk menjadi seorang Bhikkhu, Li Xiuyuan jatuh pingsan karena kelaparan. Bhikkhu kepala yang mengetahui jati diri Li Xiuyuan adalah titisan Lohan Penakluk Naga bertubuh emas , maka sang Bhikkhu kepala mengetok dahi Li Xiuyuan sebanyak tiga kali. Li Xiuyuan tiba2 sadar dan mengetahui siapa dirinya. Oleh Bhikkhu kepala, Li Xiuyuan diberi nama Bhikkhu (bukan Ji Gong / Chi Kung) – sori lupa, jadi namanya pass yach.

Setelah menjadi Bhikkhu, Li Xiuyuan sering menganggu bhikkhu lain yang kurang melatih diri. Sering kali Li Xiuyuan mencuri jubah bhikkhu yang kurang taat dan mengadaikannya untuk membeli arak atau daging. wakil Bhikkhu kepala yang gila hormat juga jadi salah satu korbannya, dimana jubah dari Wakil Bhikkhu kepala ini digadaikan oleh Li Xiuyuan. Sang wakil sempat mengadukannya kepada Bhikkhu kepala, tapi Bhikkhu kepala mengabaikan laporan tersebut dan meminta buktinya. Oleh karena itu, Wakil Bhikkhu Kepala itu menyuruh 2 orang bhikkhu untuk mengawasi Li Xiuyuan untuk menangkap basah perbuatan Li Xiuyuan. Suatu siang, Li Xiuyuan memasuki perpustakaan untuk tidur, saat akan tidur, tiba2 Li Xiuyuan bangun dan melakukan sesuatu sehingga perutnya menjadi gendut. Melihat hal ini, salah seorang dari bhikkhu pengawas memberitahu wakil kepala, yang kemudian mengajak Bhikkhu kepala untuk menangkap basah Li Xiuyuan. Saat itu sang Bhikkhu kepala merasa menyesal atas tindakan Li Xiuyuan karena beliau tidak bisa lagi melindunginya. Tibalah sang Bhikkhu kepala dan wakilnya serta para bhikkhu pengawas Li Xiuyuan di ruang perpustakaan. Sang Bikkhu kepala membangunkan Li Xiuyuan dan bertanya apakah Li Xiuyuan mencuri sesuatu. Li Xiuyuan menjawab dia tidak mencuri sesuatu. Sang wakil yang sudah merasa tidak suka, langsung menuduh dengan mengatakan apa yang ada di balik jubahnya. Kemudian Li Xiuyuan menjawab bukan apa2 dan membuka jubahnya, alhasil bukannya barang curian yang keluar melainkan debu dan sampah2. Pada saat itu Li Xiuyuan berkata, “saat ingin tidur, saya melihat ruangan ini sangat kotor, jadi saya membersihkannya”. Tapi karena tidak ada tempat sampah untuk sementara debu dan sampah2 tersebut dimasukkan kedalam jubahnya. Saat itu Bhikkhu kepala sangat senang dan malah menegur sang wakil untuk lebih bijaksana dan menyuruh Bhikkhu lain untuk membersihkan debu dan sampah tersebut. Setelah kejadian ini Li Xiuyuan lebih sering berada di luar vihara dan lebih dikenal sebagai Ji Gong.

Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu yang gemar makan daging dan minum arak. Selain itu, tindak tanduknya yang suka seenaknya sendiri menyebabkan Chi Kung dikenal sebagai Bhikkhu gila/Sinting.
Karena sering menolong orang, dan orang-orang yang ditolongnya semakin banyak, akhirnya Chi Kung mendapat julukan Chi Kung Hok Hud yang berarti Buddha Hidup Chi Kung.

27 Nasihat Suci Buddha Chi Kung
  1. Seluruh kehidupan telah diatur oleh penguasa. Apalah yang mau dimohon?
  2. Hari ini tidak tahu masalah esok. Apalah yang mau di kuatirkan?
  3. Kalaulah tidak menghormati orang tua, lalu mengormati junjungan dunia. Apalah arti penghormatan itu?
  4. Kakak adik adalah bersaudara. Apalah yang perlu diperebutkan?
  5. Anak cucu punya rezeki masing-masing. Apalah yang perlu diperebutkan?
  6. Kalau belum mendapat keberuntungan. Apalah yang perlu dipaksakan?
  7. Didunia ini sulit menemukan kebahagiaan. Mengapa harus sedih?
  8. Berpakaianlah yang sederhana dan sopan. Apalah yang mau dipamerkan?
  9. Bagaimana lezatnya makanan, hanyalah sebatas lidah. Mengapa harus rakus?
  10. Setelah meninggal tidak sesen pun yang dibawa. Mengapa harus pelit?
  11. Senior meluku, junior memetik. Apalah yang mau diperebutkan?
  12. Disatu sisi mendapatkan, disisi lain kehilangan. Mengapa harus serakah?
  13. Tiga jengkal diatas kepala ada dewa. Mengapa harus mengelabui?
  14. Kedudukan, kekayaan, kemuliaan bagaikan mekarnya bunga. Apalah yang mau diangkuhkan?
  15. Kekayaan dan kemuliaan orang telah dirintis sebelumnya. Mengapa harus iri?
  16. Kehidupan lalu tidak membina, sekarang menderita. Mengapa harus mengeluh?
  17. Orang berjudi tidak akan ada hasil yang baik. Apalah yang mau dipermainkan?
  18. Membina rumah tangga dengan rajin dan hemat melebihi memohon bantuan orang lain. Apalah yang mau diboroskan?
  19. Kalau saling membalas dendam, kapanlah akan berakhir. Mengapa harus bermusuhan?
  20. Masalah dunia bagaikan bermain catur. Apalah yang mau diperhitungkan?
  21. Orang pintar adakalanya disesatkan oleh kepintarannya? Mengapa harus licik?
  22. Berdusta akan mengikis habis rejeki seumur hidup. Mengapa harus berdusta?
  23. Segala kesalahpahaman akhirnya akan jernih juga. Apalah yang mau diperdebatkan?
  24. Tiada seorangpun juga yang bebas dari masalah. Mengapa harus menyalahkan?
  25. Goa nurani didalam hati manusia, bukan digunung. Apalah yang mau dicari?
  26. Menipu orang adalah petaka, memaklumi orang adalah berkah. Apalah yang mau diramalkan?
  27. Sekali ajal menjemput segala akan berakhir. Apalah yang terus disibukkan?
"Bagi siapa yg memperbanyak dan ikut menyebarkan ajaran welas kasih Buddha Chi Kung ini akan mendapatkan pahala yg tak terhingga"
Website counter [Close]